
Telp.
(0274) 283 7251
0822 2000 9373
15 Mei 2024
Kesejahteraan mental (mental well-being) para pekerja di Asia mencapai titik kritis dan memerlukan perhatian, dengan angka burnout yang melampaui rata-rata global. Sebuah survey yang dilakukan oleh McKinsey Health Institute menemukan bahwa satu dari tiga pekerja di Asia mengalami gejala burnout, dimana wanita dan frontline menjadi yang paling banyak terdampak.
Survey tersebut melibatkan 15.000 pekerja dan 1.000 manajemen HR di 15 negara. Dari survey tersebut, secara global satu dari empat pekerja mengalami gejala burnout, stress, serta kecemasan dan depresi. Sedangkan di Asia, angkanya mencapai hampir sepertiga; lebih tinggi dari rata-rata global.
Beberapa temuan penting dari studi tersebut diantaranya:
Buruknya kesehatan mental di lingkungan kerja bukan hanya berdampak pada individu pekerja, akan tetapi juga berdampak pada Organisasi hingga penurunan produktivitas. Kasus di Australia saja misalnya, ketidak-hadiran (mangkir) kerja yang terkait dengan kesehatan mental telah menimbulkan kerugian hingga 13,6 juta dolar dalam setahun.
Keadaan semacam ini tentunya perlu penanganan dari manajemen. Beberapa langkah yang dapat dilakukan manajemen untuk meningkatkan kesehatan mental di tempat kerja:
Waktunya bagi para leader untuk bertindak, dengan mengarah pada permasalahan sistemik yang berkontribusi terhadap tantangan kesehatan mental di tempat kerja, para leader dapat mencapai organisasi yang lebih, bahagia, lebih inklusif, dan lebih produktif.
Referensi: mckinsey.com