SpringUp
  • WhatsApp

    0822 2000 9373

Krisis Kesehatan Mental Pekerja di Asia

15 Mei 2024


Kesejahteraan mental (mental well-being) para pekerja di Asia mencapai titik kritis dan memerlukan perhatian, dengan angka burnout yang melampaui rata-rata global. Sebuah survey yang dilakukan oleh McKinsey Health Institute menemukan bahwa satu dari tiga pekerja di Asia mengalami gejala burnout, dimana wanita dan frontline menjadi yang paling banyak terdampak.

Survey tersebut melibatkan 15.000 pekerja dan 1.000 manajemen HR di 15 negara. Dari survey tersebut, secara global satu dari empat pekerja mengalami gejala burnout, stress, serta kecemasan dan depresi. Sedangkan di Asia, angkanya mencapai hampir sepertiga; lebih tinggi dari rata-rata global.

Beberapa temuan penting dari studi tersebut diantaranya:

  • Tingkat Stres Yang Tinggi, Pandemi menjadi salah satu penyebab meningkatnya tingkat stress, diantaranya karena meningktnya beban pekerjaan dan juga ketidakpastian status pekerjaan.
  • Tantangan Kultural, Faktor budaya di Asia seringkali menghindari adanya diskusi terbuka tentang isu-isu kesehatan mental, stigma masih cukup kuat menghalangi seseorang untuk mencari bantuan ketika mengalami permasalahan kesehatan mental.
  • Perilaku dan lingkungan kerja yang Toxic, aspek ini teridentifikasi sebagai prediktor munculnya burnout dan keinginan untuk pindah. Perilaku dan lingkungan toksik ini secara signifikan berdampak pada kesehatan mental para pekerja.
The Business Case

Buruknya kesehatan mental di lingkungan kerja bukan hanya berdampak pada individu pekerja, akan tetapi juga berdampak pada Organisasi hingga penurunan produktivitas. Kasus di Australia saja misalnya, ketidak-hadiran (mangkir) kerja yang terkait dengan kesehatan mental telah menimbulkan kerugian hingga 13,6 juta dolar dalam setahun.

Keadaan semacam ini tentunya perlu penanganan dari manajemen. Beberapa langkah yang dapat dilakukan manajemen untuk meningkatkan kesehatan mental di tempat kerja:

  1. Menghilangkan Perilaku Toksik; manajemen perlu secara proaktif mengidentifikasi dan memitigasi budaya-budaya atau perilaku toksik yang muncul di organisasi.
  2. Menyediakan Sumber Daya/Layanan; Setiap pekerja memiliki kebutuhan dan dukungan terkait kesehatan mental. Organisasi perlu memperhatikan dan memiliki mekanisme layanan kesehatan mental untuk setiap individu.
  3. Upaya identifikasi dan pengukuran; dengan meningkatkan identifikasi dan memperhatikan umpn balik dari karyawan, organisasi dapat merancang dan melaksanakan program yang spesifik untuk meningkatkan kesehatan mental pekerja.

Waktunya bagi para leader untuk bertindak, dengan mengarah pada permasalahan sistemik yang berkontribusi terhadap tantangan kesehatan mental di tempat kerja, para leader dapat mencapai organisasi yang lebih, bahagia, lebih inklusif, dan lebih produktif.

Referensi: mckinsey.com

Artikel Lainnya